Pengertian Majas, Contoh dan Macam-macamnya!

Pengertian Majas – Halo kawan-kawan semua. Sebelumnya kami mengucapkan selamat datang kepada anda semua yang sudah berkenan mampir di Blog ini.

Kali ini Jadijuara.com akan mengajak anda untuk negulas satu topik dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, yaitu mengenai majas. 

Dalam komunikasi sehari-hari kita tentu sering mendengar gaya bahasa yang memiliki arti tidak seperti padanan kata yang dirangkai. Nah, gaya bahasa ini secara sederhana sebenarnya arti dari majas itu. 

Namun tentu saja majas itu memiliki arti yang lebih terstruktur. Kira-kira apa sih pengertian majas itu sebenarnya? Kalian tentu penasaran bukan? 

Hehe. Sabar ya. Karena kali ini kita akan kupas tuntas segala hal yang berkaitan dengan majas, agar kawan-kawan bisa lebih mengerti dengan mapel bahasa Indonesia yang satu ini. 

Pengertian Majas
Pengertian Majas

Pengertian Majas Adalah….,

Pengertian dari majas yaitu suatu gaya bahasa yang disampaikan secara imajinatif dan kias. Hal ini bertujuan membuat pembaca mendapat efek tertentu dari gaya bahasa tersebut yang cenderung ke arah emosional. Biasanya, majas bersifat tidak sebenarnya alias kias ataupun konotasi.

Penggunaan majas ini sebenarnya lebih bertujuan pada penyampaian pesan yang lebih memberikan efek tertentu sehingga karya sastra tersebut terkesan menjadi lebih hidup.

Pengertian Majas Menurut Para Ahli

Kira-kira apa sih pengertian majas menurut para ahli? Berikut beberapa pendapat para ahli mengenai majas yang bisa anda jadikan rujukan:

1. Prof. Dr. H. G. Tarigan

Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan, pengertian majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui gaya bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian seorang penulis.

2. Goris Keraf

Pengertian majas menurut Goris Keraf adalah suatu gaya bahasa dalam karya sastra yang disampaikan secara jujur, sopan-santun, dan menarik.

3. Aminuddin

Pengertian majas menurut Aminuddin adalah gaya bahasa yang digunakan oleh seorang penulis dalam memaparkan gagasannya sesuai dengan tujuan dan efek tertentu yang ingin dicapai.

4. Luxemburg dkk

Menurut Luxemburg dkk, pengertian majas adalah suatu gaya bahasa yang memberikan ciri khas pada sebuah teks. Artinya, pada saat tertentu suatu teks dapat diibaratkan seperti individu yang berbeda dengan individu yang lain.

5. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menurut KBBI, pengertian majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain; atau dalam bentuk kiasan.

Macam-macam Majas yang Harus Anda Ketahui

Setelah kita memahami pengertian majas, kini kita ulas apa saja sih macam-macam majas itu? Secara garis besar, majas dibagi ke delam 4 kelompok besar, yaitu: majas perbandingan, pertentangan, sindiran, dan penegasan.

Untuk masing-masing kelompok majas tersebut terdapat turunannya lagi. Untuk lebih jelasnya mengenai macam-macam majas, silahkan simak uraian berikut ini

A. Majas Perbandingan

Untuk kelompok majas yang pertama adalah majas perbandingan Nah majas ini biasanya digunakan untuk membandingkan suatu objek dengan objek yang lainnya, baik itu melalui proses penyamaan, pelebihan, atau penggantian. Di dalam majas perbandingan ini pun masih dapat dibagi ke dalam beberapa sub jenis, seperti :

1. Majas Personifikasi

Jika anda sering mendengar istilah benda mati memiliki ciri seperti mahluk hidup khususnya manusia, maka itu sebenarnya sedang menggunakan gaya bahasa atau majas personifikasi.

Majas ini memiliki makna seolah-olah benda mati dapat bersikap seperti manusia. Majas ini membandingkan benda mati dan manusia. Jadi, intinya adalah pada kata ‘person’ yang berarti orang, atau meng-orang-kan benda mati.

Contoh: Api itu menari-nari di atas semak yang sudah mengering. 

Keterangan: Api merupakan benda mati, sementara menari adalah aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Nah, disini, api di’person’kan seolah-olah menjadi manusia yang bisa menari.

Contoh Majas Personifikasi:

  1. Api itu menari-nari di atas semak.
  2. Ari termenung menatap daun-daun yang bergoyang diterpa angin.
  3. HPku sedang istirahat karena digunakan semalam suntuk.
  4. Pohon jati di hutan itu tampak sedih karena musim kemarau panjang.
  5. Langit biru itu seolah menatapku dengan tajam.
  6. Aku bisa merasakan dinding-dinding di sekitarku mendengar pembicaraan kita.
  7. Baju ini berbisik di telingaku.
  8. Bunga mawar di taman sedang bercengkerama dengan kumbang.
  9. Aku tidak bisa menemukan sepedaku, mungkin dia sembunyi.
  10. Aspal berteriak di tengah terik matahari siang.

2. Majas Metafora

 

Majas metafora adalah suatu majas yang menggunakan sebuah objek yang bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan, melalui suatu ungkapan. Jadi, satu objek dibandingkan dengan objek lain yang serupa sifatnya, tetapi bukan manusia.

Contoh: Andi adalah tangan kanan di keluarga besar Pak Harto.

Keterangan: tangan kanan adalah ungkapan bagi orang yang dianggap kepercayaan.

Contoh Majas Metafora:

  1. Mila adalah bunga desa yang selalu mengagumkan.
  2. Lia selalu menjadi buah bibir karena tingkah lakunya yang urakan.
  3. Kita harus waspada dengan orang itu karena ia terkenal panjang tangan.
  4. Raja hutan itu memiliki suara yang paling menggelegar.
  5. Dodi senang sekali dengan buah tangan yang diberikan paman.
  6. Ali berusaha keras untuk mengasilkan buah pena ini.
  7. Tulisan ini adalah buah pikiran kawan sekelasku.
  8. Sang Raja Siang memang selalu membawa kehangatan.
  9. Dinda adalah buah hati pasangan yang fenomenal itu.
  10. Budi hanya bisa pasrah dianggap sebagai sampah masyarakat.

3. Majas Asosiasi

Selanjutnya, majas ini yaitu gaya bahasa majas yang menggunakan ungkapan dengan membandingkan dua objek berbeda, namun dianggap sama, yang dilakukan dengan pemberian kata sambung bagaikan, bak, atau seperti. Perbandingan dalam majas ini disampaikan secara implisit, sehingga pembaca harus menganalisa sendiri arti dari perumpamaan yang digunakan.

Contoh: Meskipun bukan saudara kembar, tapi kakak beradik itu bak pinang dibelah dua.

Keterangan: bak pinang dibelah dua artinya kedua saudara itu memiliki wajah sangat mirip.

Contoh Majas Asosiasi:

  1. Sita dan Siti bak pinang dibelah dua.
  2. Harapan Lina akan beasiswa bak gayung bersambut.
  3. Pendiriannya memang seperti air di daun talas.
  4. Dia sudah lama tidak muncul bagaikan ditelan bumi.
  5. Layaknya tiada gading yang tak retak, begitu juga manusia.
  6. Nasib kita itu seperti roda yang berputar.
  7. Memberi Heni hadiah sama saja seperti menabur garam di lautan.
  8. Menasehati kakak beradik itu seperti berbicara dengan tembok.
  9. Aku sangat kecewa dengan tindakanmu yang bagaikan duri dalam sekam.
  10. Dia sungguh mengecewakan, sikapnya bak pagar makan tanaman.

4. Majas Hiperbola

Majas ini mengungkapkan sesuatu dengan berlebihan, bahkan terkadang membandingkan sesuatu dengan cara yang hampir tidak masuk akal.

Contoh: Kakek itu bekerja banting tulang siang malam untuk menghidupi cucu –cucunya.

Keterangan: bekerja banting tulang siang malam menunjukkan kesan berlebihan dari tindakan bekerja keras.

Contoh Majas Hiperbola:

  1. Dia sudah terbiasa memeras keringat untuk menafkahi keluarga.
  2. Luluk girang setengah mati karena mendapat lotre.
  3. Dinda menangis sampai air matanya habis karena kehilangan dompet.
  4. Lari marathon sungguh melelahkan sampai kakiku terasa mau lepas.
  5. Suaranya hampir memecahkan gendang telingaku.
  6. Gadis itu berbicara dengan lantang sampai suaranya memenuhi dunia.
  7. Dia menguap sampai aku hampir tertelan.
  8. Guruku sangat baik seperti malaikat.
  9. Soal matematika ini sangat mudah bagiku, sampai bisa kuselesaikan dalam sekejap mata.
  10. Dia bisa berlari sangat cepat secepat kilat.

5. Majas Eufemisme

Majas eufemisme adalah majas dengan gaya bahasa yang menggantikan kata-kata yang dianggap kurang baik ata kurang etis, dengan padanan kata yang lebih halus dan bermakna sepadan.

Contoh: Perusahaan XYZ mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kuota pekerjaan khusus bagi kaum difabel.

Keterangan: kata difabel menggantikan frasa yang dianggap kurang baik, yakni “orang cacat”.

Contoh Majas Eufemisme:

  1. Dia adalah seorang tuna daksa.
  2. Kita harus menolong orang yang tuna wisma.
  3. Kasihan anak itu, ia terlahir tuna rungu.
  4. Guru itu adalah seorang difabel, tapi ia sangat pandai mengajar.
  5. Dia terpaksa mendekam di hotel prodeo karena kecelakaan itu.
  6. Karena terjerat kasus korupsi, ia harus dihadapkan di meja hijau.
  7. Orang tua itu sudah tidak memiliki sanak saudara, makanya ia diletakkan di panti jompo.
  8. Meskipun ia adalah kaum marginal, tapi ia memiliki semangat belajar tinggi.
  9. Jika kita bertemu kaum fakir, kita tidak boleh menghinanya.
  10. Dia mengalami gangguan jiwa karena kehilangan pekerjaan dan keluarga sekaligus.

6. Majas Metonimia

Majas metonimia adalah majas yang menggunakan gaya bahasa dengan menyandingkan merek atau istilah tertentu yang sudah populer, untuk merujuk benda yang sebenarnya lebih umum.

Contoh: Agar gigi bersih, kita harus rajin menggosok gigi dengan odol.

Keterangan: yang dimaksud dengan odol di sini adalah pasta gigi, karena odol sebetulnya adalah merek dagang dari pasta gigi.

Contoh Majas Metonimia:

  1. Ayah suka menghisap gudang garam.
  2. Paman memintaku membeli djarum super.
  3. Agar tidak mabuk perjalanan, minum dulu antimo sebelum berpergian.
  4. Jika sedang akhir bulan, aku biasa makan supermi.
  5. Tolong ambilkan aqua dingin, aku haus sekali.
  6. Rasanya gerah sekali siang ini, aku ingin minum teh gelas saja.
  7. Ayo kita pergi naik honda.
  8. Aku ingin terbang naik garuda.
  9. Tolong ambilkan nokia milik Kakak di dalam kamar.
  10. Jika merasa lemas, Kamu bisa meminum sangobion.

7. Majas Simile

Majas Simile ini bisa dikatakan menyerupai majas asosiasi yang menggunakan kata hubung berupa : bak, bagaikan, atau seperti. Hanya bedanya, pada majas simile ini tidak membandingkan dua objek yang berbeda, melainkan membandingkan kegiatan dengan menggunakan ungkapan yang maknanya serupa dan disampaikan secara lebih lugas atau eksplisit. Jadi pembaca langsung bisa menebak arti dari perumpamaan yang digunakan.

Contoh: Setelah kehilangan kakaknya, Dito bagaikan anak ayam kehilangan induknya, selalu kebingungan.

Keterangan: bagaikan anak ayam kehilangan induknya menunjukkan adanya kegiatan yang selalu dalam kebingunan tanpa arah dan tujuan.

Contoh Majas Simile:

  1. Sering-seringlah bergaul, agar tidak kurang wawasan, seperti kura-kura dalam tempurung.
  2. Dia selalu saja patuh pada ketua geng itu, seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.
  3. Lili memang sudah terkenal sebagai pemalas, seperti beruang di musim dingin.
  4. Adikmu tampak sangat lapar, jalannya seperti singa kelaparan.
  5. Rapat hari ini sangat kacau, seperti hutan terserang angin ribut.

8. Majas Alegori

Majas alegori adalah majas dengan gaya bahasa yang menyandingkan suatu objek dengan kata-kata kiasan bermakna konotasi atau ungkapan.

Contoh: Dalam bahtera rumah tangga, suami adalah nakhodanya.

Keterangan: kata suami diungkapkan sebagai nahkoda, yang bermaksud sebagai pemimpin keluarga.

Contoh Majas Alegori:

  1. Jika sudah sampai pada dermaga kehidupan, pada anaklah kita akan berlabuh.
  2. Ani sedang mencari pelabuhan cintanya, dan pada Adilah ia berlabuh.
  3. Dalam pertarungan mencari jati diri, diri kita sendirilah petarungnya, dan orang tua adalah pelatihnya.
  4. Pertandingan politik ini, membutuhkan kapten yang tepat.
  5. Di dalam perlombaan memenangkan hati, jurinya adalah perasaan.

9. Majas Sinekdok

Gaya bahasa sinekdok ini menunjukkan adanya perwakilan dalam mengungkapkan sesuatu. Agar lebih jelas, kita bisa melihat pada pembagian majas sinekdok ini, di mana majas ini masih terbagi lagi dalam dua macam, yaitu sinekdok pars pro toto dan sinekdok totem pro parte.

Sinekdok pars pro toto (part/ sebagian mewakili total) adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian unsur dengan maksud mewakili keseluruhan benda. Sedangkan sinekdok totem pro parte (total mewakili part/ sebagian) adalah kebalikannya, yaitu berupa gaya bahasa yang menunjukkan keseluruhan bagian yang mewakili hanya pada sebagian benda atau situasi saja.

Contoh:
Pars pro Toto: Selama seminggu ini, Riyan belum juga menampakkan batang hidungnya.

Keterangan: batang hidung adalah hanya sebagian dari Riyan, padahal yang dimaksud adalah Riyan seluruhnya.

Totem pro Parte: Indonesia telah berhasil mendapatkan 11 medali emas Asian Games tahun ini.

Keterangan: Indonesia adalah seluruhnya, padahal yang dimaksud mendapat medali hanya beberapa orang yang mewakili Indonesia saja.

Contoh Majas Sinekdok Pars Pro Toto:

  1. Kita hanya perlu mewakilkan satu kepala saja dalam rapat ini.
  2. Ibu membeli tiga ekor ayam untuk pesta nanti malam.
  3. Dia hanya menampakkan batang hidungnya sebentar saja, lalu pergi.

Contoh Majas Sinekdok Totem Pro Parte :

  1. Malaysia berhasil mengalahkan Thailand dalam pertandingan bola itu.
  2. Amerika Serikat menyerang negara-negara yang dianggapnya berbahaya.
  3. China menyatakan bahwa negaranya telah terbuka dalam hubungan internasional.
  4. Jepang berhasil menerbangkan rudal tempur terbaru yang diklaim sangat canggih.
  5. Sekolahku memenangkan lomba cerdas cermat di Semarang.

10. Majas Simbolik

Majas simbolik menggunakan gaya bahasa yang membandingkan antara manusia dengan sikap makhluk hidup lain dalam bentuk ungkapan.

Contoh: Silvi adalah bunga desa yang banyak memiliki kelebihan.

Keterangan: bunga desa menunjukkan sosok yang banyak dikagumi.

Contoh Majas Simbolik:

  1. Rian sangat berani seperti raja hutan.
  2. Dina disebut-sebut sebagai kembang desa yang dikagumi semua pria.
  3. Lisa seperti ratu lebah yang dipuja oleh banyak orang.
  4. Dian yang masih menyendiri hingga sekarang memang layak dianggap bunga teratai, indah tapi susah dijangkau.

B. Majas Pertentangan

Majas pertentangan merupakan suatu bentuk gaya bahasa dengan kata-kata kiasan yang bertentangan dengan yang dimaksudkan sesungguhnya. Jenis majas pertentangan dapat dibagi ke dalam beberapa subjenis, meliputi :

1. Majas Litotes

Majas litotes adalah majas yang berkebalikan dengan majas hiperbola, tetapi lebih sempit pada ungkapan yang bertujuan untuk merendahkan diri, dan pada kenyataannya yang dimaksud tidak seperti yang dikatakan.

Contoh: Jika ada waktu, sudilah kiranya mampir ke gubuk kami.

Keterangan: gubuk yang dimaksud adalah rumah, sekali pun sebetulnya bukan berbentuk gubuk melainkan rumah yang sudah memiliki bangunan kokoh.

Contoh Majas Litotes:

  1. Apalah daya kami hanya bisa menyediakan pondok sederhana ini untuk kalian.
  2. Silahkan dinikmati makanan seadanya ini.
  3. Ini uang tanda terima kasih sekedar untuk mengganti ongkos pulsa.
  4. Ya, baru mobil butut ini yang bisa kami beli.
  5. Semoga kalian bisa nyaman dengan alas sederhana ini.

2. Majas Paradoks

Majas paradoks adalah majas dengan ungkapan membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi yang berkebalikan.

Contoh: Aku merasa sepi di tengah – tengah pesta yang ramai ini.

Keterangan: sepi dan ramai adalah sesuatu yang bertentangan.

Contoh Majas Paradoks:

  • Dia merasa lapar, padahal tinggal di pusat kuliner.
  • Dia tersenyum, meski hatinya sedih karena ditinggal sang kekasih.
  • Ani tetap saja menangis, ketika orang-orang di sekitarnya tertawa.
  • Lia merasa malas di tengah kobaran semangat para relawan.
  • Didi merasa bising di ruangan kosong yang sepi ini.

3. Majas Antitesis

Pengertian majas antitesis adalah majas yang memadukan pasangan kata yang memiliki arti bertentangan.

Contoh: Baik buruk semua ada balasan yang setimpal.

Keterangan: kata baik dan buruk adalah dua makna yang bertentangan dan saling disandingkan.

Contoh Majas Antitesis:

  1. Besar kecil kue ini tetap enak rasanya.
  2. Tinggi rendah martabat kita tergantung pada tingkat laku kita.
  3. Orang akan menilai baik buruk diri kita dari sikap kita kepada mereka.
  4. Sangat penting untuk menilai orang berdasarkan benar salah perbuatan mereka.
  5. Suka benci itu adalah hak kita untuk mengatur perasaan kita sendiri.
  6. Kita harus selalu menyapa kawan kita, lupa atau ingat mereka pada kita.
  7. Sehat sakit itu adalah anugerah yang harus kita syukuri.
  8. Cepat lambat kita pasti akan mendapatkan rejeki.
  9. Hidup mati manusia berada di tangah Tuhan.
  10. Gemuk kurus bagiku semua wanita itu cantik selama ia memiliki sikap santun.

4. Majas Kontradiksi Interminis

Adalah gaya bahasa dengan ungkapan menyangkal ujaran yang telah dipaparkan sebelumnya, dan biasanya diikuti konjungsi, seperti kata kecuali atau hanya saja.

Contoh Majas Kontradiksi Interminis:

  1. Kota – kota besar ini semakin mewah, kecuali kota – kota pinggiran yang semakin tersisih.
  2. Pesta ini sangat meriah, hanya saja di sudut kolam itu terlihat sepi.
  3. Burung-burung di sini sangat cantik, kecuali burung kecil yang sedang terluka itu terlihat buruk.
  4. Hewan ternak milik Pak Sugi sehat – sehat, hanya saja ada beberapa ternak yang sakit – sakitan.
  5. Mobil-mobil di dealer ini sangat modern, kecuali satu mobil yang ada di ujung sana terlihat kuno.

C. Majas Sindiran

Majas sindiran adalah kelompok macam majas yang menggunakan kata-kata kiasan yang tujuannya adalah untuk menyindir seseorang atau perilaku dan kondisi tertentu. Jenis majas sindiran terbagi ke dalam tiga subjenis, meliputi :

1. Majas Ironi

Pengertian majas ironi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata bertentangan dengan fakta yang ada dengan maksud menyindir. Jadi, seperti memuji di awal, tapi menunjukkan maksud sebenarnya (yakni menyindir) di akhir kalimat.

Contoh Majas Ironi:

  1. Bersih sekali tempat ini, sampai –sampai bisa jadi sarang tikus.
  2. Wangi sekali bajumu, sampai banyak lalat yang mengerubuti.
  3. Besar sekali kadomu, sampai bisa dimasukkan dalam kantong celana.
  4. Sepertinya dietmu sukses, berat badanmu naik hingga 10 kg.
  5. Kakaknya baik sekali, mengantarkan adik ke sekolah saja enggan.
  6. Santun sekali kamu, berbicara saja pakai membentak-bentak.
  7. Pandai sekali kamu, matematika bisa mendpatkan nilai nol besar.
  8. Rajin sekali adikku ini, matahari sudah di tengah kepala baru bangun.
  9. Cepat sekali larimu, dibandingkan dengan kura-kura saja sama.
  10. Pengertian sekali kamu, ada tamu tidak pernah dijamu.

2. Majas Sinisme

Majas sinisme ini menggunakan gaya bahasa yang menyampaikan sindiran secara langsung pada hal yang disindir. Sinisme tidak menggunakan ungkapan untuk memperhalus sindiran seperti ironi, namun sindiran juga tidak disampaikan secara kasar.

Contoh Majas Sinisme:

  1. Kotor sekali kamarmu sampai debu debu bertebaran di mana -mana.
  2. Apek sekali bantal ini seperti tidak pernah dicuci.
  3. Kurus sekali kamu seperti orang yang sudah tidak makan setahun.
  4. Kamu memang sangat malas, tidak pernah mau membersihkan rumah.
  5. Dia itu sangat pelit, tidak pernah mau berbagi.

3. Majas Sarkasme

Majas ini menyampaikan sindiran secara langsung dan sifatnya kasar, sehingga cenderung seperti hujatan.

Contoh Majas Sarkasme:

  1. Dia hanyalah sampah masyarakat yang tak berguna!
  2. Dia itu sangat dungu dan tidak tahu apa-apa.
  3. Anak itu sangat tolol sehingga membuatku muak.
  4. Masakan ini rasanya sungguh membuatku ingin muntah.
  5. Pestanya sungguh kacau sehingga aku tidak bisa menikmatinya.
  6. Burung itu memang buruk rupa sehingga tidak ada yang mau membelinya.
  7. Dodo dikenal sebagai orang yang sangat jorok.
  8. Bangunan ini sudah reot dan kumuh seperti tempat pembuangan sampah.
  9. Suara penyanyi ini sangat jelek membuat telingaku sakit.
  10. Buku ini jelek sekali, aku pusing dibuatnya.

D. Majas Penegasan

Majas penegasan adalah jenis gaya bahasa yang dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan pengaruh kepada para pembaca atau pendengarnya agar menyetujui ujaran atau kejadian yang diungkapkan. Majas penegasan dapat dibagi ke dalam tujuh subjenis, yang meliputi :

1. Majas Pleonasme

Majas ini menggunakan kata-kata yang maknanya sama, sehingga terkesan tidak efektif, namun hal ini sengaja dilakukan untuk menegaskan suatu hal.

Contoh: Kita harus maju ke depan agar bisa menjelaskan pada teman sekelas.

Keterangan: maju pasti ke depan.

Contoh Majas Pleonasme:

  1. Silahkan angkat tangan ke atas bagi yang setuju.
  2. Bagi yang merasa mampu mengerjakan soal ini boleh maju ke depan.
  3. Kita harus selalu mengingat sejarah di masa lalu.
  4. Kita tidak boleh mundur ke belakang meninggalkan dia sendiria.
  5. Bagi yang merasa sudah lengkap berkasnya, bisa masuk ke dalam.

2. Majas Repetisi

Gaya bahasa repetisi dilakukan dengan mengulang kata-kata yang ada dalam sebuah kalimat.

Contoh Majas Repetisi:

  1. Dia adalah pelakunya, dia si pencuri itu, dialah yang mengambil jam tangan milikmu.
  2. Saya ingin berubah, saya ingin rajin belajar, saya ingin pintar, saya ingin menjadi orang sukses.
  3. Lili adalah gadis cantik, Lili adalah gadis baik, Lili adalah gadis yang sempurna.
  4. Siti begitu baik, Siti begitu mulia, Siti-lah yang selalu menolongku setiap kali aku ada masalah.
  5. Buku ini buku yang bagus, buku ini sangat istimewa, buku inilah yang mampu merubah sudut pandangku.
  6. Di tempat ini aku pertama kali bertemu dengannya, di tempat ini aku berkenalan, di tempat ini aku selalu menunggunya, di tempat ini pula ia meninggalkanku.
  7. Rumah ini adalah tempat paling nyaman, rumah ini adalah tempat paling istimewa, rumah inilah tempat tinggalku satu-satunya.
  8.  Gadis itu telah berhasil merayuku, gadis itu berhasil memikat hatiku, gadis itulah yang selalu mengisi ingatanku.
  9. Komputer inilah yang selalu menemaniku, komputer inilah yang mengatarkanku pada kesuksesan, komputer ini sudah seperti saudaraku.
  10. Kota ini adalah tempat kelahiranku, kota ini tempatku dibesarkan, dan di kota ini pula aku akan mati.

3. Majas Retorika

Majas retorika dilakukan dengan memberikan penegasan dalam bentuk kalimat tanya, yang sesungguhnya tidak perlu dijawab.

Contoh Majas Retorika:

  1. Kapan Aku pernah memintamu untuk membohongiku?
  2. Apa ada orang yang mau ditipu?
  3. Siapa yang rela jika harus kehilangan orang yang dikasihinya?
  4. Apa kita pernah meminta mendapatkan semua keberkahan ini?
  5. Kapan Aku memintamu untuk iri kepadaku?
  6. Siapa yang tidak ingin hidup makmur dan sejahtera?
  7. Siapa yang senang bila keluarganya berantakan?
  8. Siapa yang tidak berduka bila rumahnya kebakaran?
  9. Apa kita pernah meminta seorang pemimpin yang hanya memikirkan diri sendiri?
  10. Siapa yang tidak ingin mendapat pemimpin yang amanah?

4. Majas Klimaks

Majas ini mengurutkan sesuatu dari tingkatan yang rendah ke tinggi.

Contoh Majas Klimaks:

  1. Bayi, anak kecil, remaja, hingga orang tua seharusnya memiliki kehidupan yang layak dan sejahtera.
  2. PAUD, TK, SD, SMP, SMA, kita harus bisa menyisipkan pendidikan karakter di setiap tahapannya.
  3. Kecil, sedang, besar, semua buah ini akan kubeli.
  4. S, L, M, XL, XXL, kita semua memiliki ukuran pakaian itu.
  5. Anak-anak, muda, tua, bisa menikmati fasilitas yang kami berikan ini.
  6. Masyarakat di pelosok, desa, kota, sudah selayaknya mendapat kesejahteraan hidup yang baik.

5. Majas Antiklimaks

Gaya bahasa ini berkebalikan dengan klimaks, yakni gaya bahasa yang menegaskan sesuatu dengan mengurutkan suatu tingkatan dari tinggi ke tingkatan yang rendah.

Contoh Majas Antiklimaks:

  1. Masyarakat modern, desa, hingga yang pelosok seharusnya memiliki akses kesehatan yang layak.
  2. Lansia, dewasa, remaja, anak-anak, juga bayi, boleh datang ke pesta yang kita adakan.
  3. Tua, muda, juga anak-anak punya hak yang sama untuk bahagia.
  4. Ukuran jumbo, sedang, kecil, tersedia di toko kami.
  5. S3, S2. S1. juga D3, boleh mendaftarkan diri di perusahaan ini.

6. Majas Pararelisme

Gaya bahasa paralelisme biasanya terdapat dalam puisi, yang dilakukan dengan mengulang-ulang sebuah kata di dalam berbagai definisi berbeda. Jika pengulangan dilakukan di awal, maka disebut sebagai anafora. Namun, jika kata yang diulang ada pada bagian akhir kalimat, maka disebut epifora.

Contoh Majas Paralelisme:Cinta itu sabar.

Cinta itu lemah lembut.

Cinta itu memaafkan.

Cinta itu tidak serakah.

Kasih itu penyabar.

Kasih itu tidak pernah marah.

Kasih itu selalu mengerti.

Yang terbaik itu cinta.

Yang terkasih itu cinta.

Yang paling sempurna itu cinta.

Perempuan paling hebat itulah ibuku.

Perempuan yang penuh kasih sayang itulah ibuku.

Perempuan yang penuh pengertian adalah ibuku.

Perempuan paling sempurna adalah ibuku.

7. Majas Tautologi

Majas ini menggunakan kata-kata yang memiliki sinonim untuk menegaskan kondisi atau ujaran tertentu.

Contoh Majas Tautologi:

  1. Hidup akan terasa aman, damai, dan tenteram, apabila kita semua bisa saling menghormati.
  2. Dia adalah gadis yang penuh dengan kasih, sayang, dan cinta.
  3. Gadis di pelaminan itu adalah gadis yang cantik, manis, dan anggun.
  4. Suasana di pesta ini sangat ramai, meriah, gegap gempita.
  5. Kelas ini terasa begitu sepi, sunyi, senyap, tidak ada yang hadir.
  6.  Aku menyukai anak yang ceria, gembira, riang, dan penuh suka cita itu.
  7. Jika memilih baju, ia selalu memilih yang modis, elegan, modern, dan gaya.
  8. Lili itu anak yang sangat rajin, disiplin, patuh, tidak pernah terlambat.
  9. Cahaya bulan malam ini tampak terang benderang bercahaya.
  10. Gerakan tarian itu tampak lemah lembut, gemulai, dan begitu meliuk.
  11. Kita tidak bisa mempercayai penjahat, perampok, penjambret, dan pencuri, seperti dia.

*****

Referensi:

  1. Arifin, E.Z dan Junaiyah. 2009. Sintaksis: Untuk Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa dan Linguistik dan Guru Bahasa Indonesia SMA/ SMK. Jakarta: Grasindo.
  2. Darmayanti, N dan Hidayati, N. 2008. Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat Unggul Kelas XII. Bandung: Grafindo Media Pratama.
  3. Kusmayadi, I. 2008. Think Smart Bahasa Indonesia: Kumpulan Soal untuk Kelas XI SMA/MA Program Bahasa. Bandung: Grafindo Media Pratama.
  4. Sugono, D. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  5. Utami, S., Sugiarti, Suroto, dan Alexander S. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Bagaimana? Sudah sangat jelas bukan? Kini teman-teman tentu sudah sangat mengerti majas, mulai dari pengertiannya, tujuan hingga macam-macam majas yang biasa digunakan baik dalam tulisan maupun lisan sehari-hari.

Dengan banyak berlatih menggunakan majas ini tentu kita akan semakin paham dan terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai tulisan karya sastra yang akan kita buat maupun yang kita baca.

Semoga bermanfaat untuk teman-teman semua. Jangan lupa juga untuk membagikan artikel ini kepada teman-teman yang lainnya ya, agar yang lain juga lebih paham mengenai majas ini.

Artikel terkait: Pengertian Budaya, Unsur, Ciri, Konsep dan Contohnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *